Latest Posts

Minggu, 14 Oktober 2012

Krisis global dan industri souvenir di Indonesia

       Nilai export Indonesia yang dirilis BPS (April 2012) ditengarai mencapai USD 15,98 Milyar namun juga mengindikasikan adanya penurunan disbanding export pada bulan april tahun sebelumnya (-3,46%).  Menutup dari kementrian koperasi dan UKM dalam mendongkrak export produk-produk UKM melalui penerapan standarissai produk dan manajenen mutu serta kehalalan produk, dimana problem utama dari UKM di Indonesia sampai saat ini adalah lingkup permasalahan daya saing apalagi dengan diperlakukan masyarakat ekonomi asean 2015. Terlebih juga munculnya krisis dan resesi global dieropa yang sampai saat ini masih belum tuntas perlu mendapatkan perhatian serius.

       UKM Bina Usaha Mandiri mengembangkan konsep standardisasi produk dengan memastikan souvenir-souvenir yang dipasarkan memiliki kelayakan baku mutu internasional misalnya sepertihalnya dalam pengolahan limbah koran dan kertas lainnya yang diolah dan diproses secara baik sehingga dapat menghasilkan produk-produk yang memiliki kualitas export. Menurut Siti Aminah pemilik UKM Bina  Usaha Mandiri buyer-buyer sering mengunjungi kerumahnya mereka dating langsung untuk melihat produk-prosuk yang dihasilkan di UKM. Dari keunikannyaa yang mengolah limbah Koran menjadi souvenir UKM yang dipimpin Ibu Siti Aminah yang merupakan salah satu icon industry kreatif jawa tengah terutama Solo dapat bertahan ditengah-tengah krisis global eropa, hal ini sejalan dengan kunci pengembangan daya saing dan penerapan standar kualitas yang baik sebagai dasar mencapai kepercayaan pelanggan-pelanggannya.

       Export value of Indonesia which was released BPS (April 2012) allegedly reached USD 15.98 billion, but also indicated a decline in exports in April compared to the previous year (-3.46%). Closing of the Ministry of Cooperatives and SMEs in boosting export the products of SMEs through the application of our products and manajenen standarissai quality and halal products, where the main problem of SMEs in Indonesia to date is the scope of the problem of competitiveness especially with treated asean economic community by 2015. Moreover, also the emergence of the crisis and the global recession dieropa which is still not finished need to get serious attention.
       Independent Business Development SMEs to develop the concept of standardization to ensure product marketed souvenirs viable international quality standards such as Just like in the processing of waste paper and other papers are processed and processed so that the well can produce products that have export quality. According to Siti Aminah Independent Business Development SME owner-buyers buyers frequently visit his home to see their direct dating prosuk products produced in SMEs. From the process waste keunikannyaa a souvenir newspaper SME led Siti Aminah is one creative industry icon Solo Central Java especially to survive in the midst of a global crisis of Europe, this is in line with the key to the development of competitiveness and the implementation of a good quality standard as the basis achieve confidence in its customers.

Rabu, 29 Agustus 2012

Paradigma pengembangan industry


            Konsep pengambangan industry kreatif Indonesia membutuhkan akselerasi yang dinamis. Akselerasi yang didapatkan tidak terlepas dari  konten manajemen pengetahuan dan konsep strategi pengembangan berbasis triple helig. Konsep triple helig mengakomodasi kebutuhan industry berupa akses bagi percepatan bidang usaha, management, akses ketersediaan bahan baku dan permasaran. Pada sisi lain peran perguruan tinggi sebagai innovator yang mampu mengcreat supporting tools dalam industry kreatif seperti mesin, perangkat lunak, peragkat keras maupun metodologi penyelesaian sangat dibutuhkan bagi terciptanya akselerasi industry kreatif di Indonesia. Sementara peran pemerintah akan cenderung lebih dominan pada sisi regulari yang memihak pada pengusaha kecil, UKM maupun industry berbasis kerakyatan serta peranannya dalam diseminasi informasi pada khalayak.
           Implementasi pada UKM berbasis kerajinan tangan berupa souvenir adalah bagaimana mensinergikan kebutuhan bagi percepatan industry seperti halnya yang telah dikembangkan tim IbPE Politeknik Negeri Semarang mendorong tumbuhnya wira usaha baru (tennan) dalam industry souvenir berbahan limbah kertas koran yang sampai telah memenuhi kebutuhan pasar di indonesia serta terciptanya peluang skema dukungan investasi kredit regulasi yang dimotori oleh pemerintah daerah dalam mendukung kinerja UKM yang mana pada akhirnya pengembangan industry ini akan berdampak pada terciptanya lapangan pekerjaan baru, tingkat survive dari industry input PAD yang memberikan dukungan percepatan pembangunan daerah dalam contents kontribusi export non migas.

    
             The concept of floating Indonesia creative industry requires a dynamic acceleration. Acceleration obtained is inseparable from the concept of knowledge management and content development strategy based triple helig. The concept of triple helig accommodate the needs of industry in the form of access to the acceleration of the business, management, access and availability of raw materials permasaran. On the other hand the role of universities as innovators capable mengcreat tools supporting the creative industries such as machinery, software, hardware and methodologies peragkat resolution is necessary for accelerating the creation of creative industry in Indonesia. While the role of the government is likely to be more dominant on the regulari in favor of small entrepreneurs, SMEs and industry-based democracy and their role in the dissemination of information to the audience.          Implementation of the SME-based furniture and wicker is how to synergize the need for speed as well as the industry has developed a team of Semarang State Polytechnic IbPE encourage new entrepreneurship (Tennan) in the waste paper wicker furniture industry, which until now is 100% export needs as well as the creation of credit investment opportunities regulatory support schemes initiated by the local government in supporting the performance of SMEs which in turn will impact the development of this industry in the creation of new jobs, the rate of survival of the industry input PAD provides support accelerated development of the region in the contents contribution of non-oil exports.

Indusrti Kreatif Berbasis Kepedulian


Sebuah ikon ekonomi wisata daerah merupakan konsep strategis yang dikembangkan pemerintah kota/kabupaten di Indonesia. Ikon berbasis indusrti kreatif diciptakan berakar pada budaya lokal masyarakat yang menempati daerah tersebut, demikian juga kota Surakarta yg memiliki budaya tradisional yang kat memiliki banyak brand image di dalamnya seperti keraton, batik, lurik yg menggambarkan keragaman industri kreatif. Pengembangan industri ini hendaknya memperhatikan terciptanya lapangan kerja pada lingkunga di sekitarnya, seperti yg dicontohkan ibu Siti Aminah dengan mengembangkan konten industri kreatif berbasis limbah kertas koran untuk disulap menjadi berbagai kerajinan seperti lampu, tas, dompet, tempat tisu, yang mana indusrti ini di support oleh ibu-ibu PKK di sekitar Kadipiro. Hal yg selanjutnya direspon berupa apresiasi dari Pemkot Solo dengan memberikan bantuan satu ton kertas koran pada UKM BINA USAHA MANDIRI yg diketuai oleh ibu Siti Aminah. Hal ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah kota Solo agar munculnya ikon industri kreatif dapat lebih maju dan survive.

Minggu, 26 Agustus 2012

Recycled for Export- Oriented Handicrafts



Recycled Newsprint for Export-Oriented Handicraft Products
Creative Hands Crafts Industry Center at Kadipiro Solo, Indonesia Maria Hidayati



Kinerja Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk mendorong keandalan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir (di sektor mikro). Jumlah dari produk domestik bruto diciptakan oleh kelompok ini pada tahun 2009 mencapai 56,7 persen dari PDB nasional secara total. (Tulus Tambunan, 2009) Nilai dari produk domestik bruto disumbangkan oleh usaha kecil dengan 41,1 persen dan menengah sebesar 15,6 persen. Pertumbuhan PDB UKM sejak tahun 2008 melebihi pertumbuhan nasional jumlah PDB pada jumlah pekerja di sektor UKM tercatat 79 juta pekerja. Dimana 70,3 juta di antaranya bekerja di sektor usaha kecil dan sisanya di sektor usaha menengah. Micro-indikator ekonomi menunjukkan UKM memberikan kontribusi penting mendukung perekonomian Indonesia. Distribusi geografis dari UKM di Indonesia menunjukkan 30 persen secara nasional dalam jumlah UKM di wilayah regional Jawa Tengah. UKM di Jawa Tengah tersebar di berbagai kluster; seperti ukiran kayu, batik, tenun, ukiran batu, logam cor, keramik & tembikar dan tenun. Dari setiap kluster tersebut didukung mayoritas dari industri kecil, yang mana mereka harus bekerja keras untuk menyiasati pasang surut volume permintaan produk mereka. Desain inovatif dan terobosan baru diperlukan untuk melakukan redesain atas produk mereka. Seperti halnya tren perubahan permintaan ekspor dibidang kerajinan unik berbahan limbah, jika sebelumnya tingkat permintaan model mebel berbahan limbah enceng gondok sangat tinggi dan digemari di Eropa dan Australia, namun nampaknya model mebel berbahan baku enceng gondok menyisakan berbagai permasalahan yang belum juga teratasi seperti jamur, pewarnaan dan ketahanan terhadap cuaca. Pemikiran pembaharuan muncul dari Sukoharjo, Ali Maksum salah satu pengusaha Mebel Sukoharjo yang lama berkecimpung dengan bahan2 mebel seperti rotan, pelepah pisang dan enceng gondok mulai melakukan terobosan dan pengujian membuat pilinan tali berbahan limbah kertas semen maupun limbah kertas pabrikan (kraf) yang ditangannya dapat disulap menjadi produk-produk mebel yang cantik yang tak kalah dengan mebel berbahan kayu jati. Varian produk yang dihasilkan saat ini seperti kursi makan, meja, kursi pantai, box susun, almari yang mana kesemuannya di ekspor ke luar negeri (100% ekspor), sementara pasar dalam negeri belum sempat tergarap. Minat akan produk-produk ini adalah pasar Eropa dan Asia Timur, mereka menyukai produk- produk furniture berbahan alam yang berbahan "recycle-reuse". Kendala saat ini adalah kesiapan bahan baku untuk menunjang permintaan pasar ekspor, dimana selama ini bahan baku dikejakan secara manual dan minimal menggunakan alat boor yang mempekerjakan penduduk di Boyolali sebagai bentuk kepedulian sosial Ali Maksum di daerahnya. Bahan baku untuk membuat mebel dari kayu atau rotan sebagai kerangka, kertas bekas dan bahan penolong untuk proses produksi dan finishing. Kayu dan rotan bahan baku yang melimpah mengingat lokasi UKM di rotan furnitur kayu industri /. Bahan yang digunakan kertas dipasok oleh pemasok di solo kota dari limbah pabrik (kraft sisa kertas) dan masyarakat sekitar UKM (kertas semen bekas, kertas koran yang digunakan). Ketersediaan bahan baku tidak bermasalah, karena dapat berlanjut dalam jangka panjang. Bahan tambahan seperti lem, pernis dan cat yang tersedia di pasar dengan harga terjangkau. Saat ini kendala kebutuhan bahan baku telah teratasi dengan adanya tim pengabdian masyarakat Polines dengan skim IBPE Dikti. Tim pengabdian masyarakat Polines telah selesai merancang model mesin pilin 10 line untuk menjawab kebutuhan UKM akan bahan baku tali kertas sepanjang 15 meter dengan diameter pilinan 2,5' dan 5'. Mesin seri pertama ini telah diujicobakan dapat menyelesakan tali 15mx10 dalam 12 detik sehingga memberikan nilai manfaat menujang keberlanjutan industri ini.

Jumat, 24 Agustus 2012

PROFILE SMEs and IbPE TEAM Semarang State Polytechnic


Bina Usaha Mandiri is an SMEs  that engaged in the industry that manufactures furniture from waste paper. SMEs Bina Usaha Mandiri was build by  Mrs.  Siti Aminah and know collaboration with IbPE Team Semarang State Polytechnic.

Profile of SMEs Bina Usaha Mandiri














SME Name
BINA USAHA MANDIRI  
Address
Sambirejo RT.03/09 Kadipiro Banjarsari Solo 57136
Line of Business
:  SMALL MEDIUM ENTERPRISE - SME
Email 
Telp
081-329-997-909 / 081-329-997-919 / 0271-2021702








Profile of IbPE Team Semarang State Polytechnic












Full Name
:  Iwan Hermawan, SE., Skom., MT  
Place and Date of Birth
:  Semarang, 23 April 1979
Gender
:  Laki-laki
Department/Studies  Program
:  Administrasi Niaga/Administrasi Bisnis
Pangkat/Golongan/NIP
:  Lektor Kepala/IIId/19772904  200112 1 001
Areas of Expertise
:  Teknologi Informasi
Position in Team
:  Leader of Community Service


















Full Name
:  Ir. Edi Suwarto MT
Place and Date of Birth
:  Semarang, 21 November 1955
Gender
:  Laki-laki
Department/Studies Program
:  Elektro/Elektro
Pangkat/Golongan/NIP
:  Lektor Kepala/IVb/19551121 198403 1 002
Areas of Expertise
:  Automatic Engine of Electicity
Position in Team
:  Anggota Bidang Pengelolaan Instrument
Listrik dan Komunikasi










  









Full Name
:  Ir. Suharto., MPd
Place and Date of Birth
:  Pati, 13 Juli 1958
Gender
:  Laki-laki
Department/Studies Program
:  Mesin/Perancangan Mesin
Pangkat/Golongan/NIP
:  Lektor Kepala/IVa/19580713  198803 1 002
Areas of Expertise
:  Rancang Bangun Mesin
Position in Team
:  Anggota Bidang Instrument Mesin










Full Name
:  Sarana, SE., Msi
Place and Date of Birth
:  Yogya, 26 April 1963
Gender
:  Laki-laki
Department/Studies Program
:  Akuntansi/Komputer Akuntansi
Pangkat/Golongan/NIP
:  Lektor Kepala/IVb/19630426 198903 1 001
Areas of Expertise
:  Sistem Informasi Akuntansi
Position in Team
:  Anggota Bidang Management dan Tata Keuangan






















Nama Lengkap
:  Drs. Suryanto., Mpd
Place and Date of Birth
:  Bantul, 17 November 1954
Gender
:  Laki-laki
Department/Studies Program
:  Mesin/Teknik Mesin
Pangkat/Golongan/NIP
:  Lektor Kepala/IVc/19541117  198503 1 001
Areas of Expertise
:  Fisika Mesin
Position in Team
:  Anggota Tim Teknis Pengembangan Mesin
       











        

MARKET

  SMEs are the market leader for a kind of handicraft products, the market area: 60% of the remaining 40% of local and foreign markets (foreign). Model of marketing is done by displaying a physical product to consumers (domestic and foreign) by following the exhibition even at least once every week held the Regional Government of Surakarta. Existing communication tools used in the form of PSTN phone to the relationship between suppliers of raw materials, the relationship wih the buyer. Preview selling price of a simple product (a type of laptop bags from newspapers) sold about $ 7 US per unit (dollar)

Selasa, 14 Agustus 2012

HUMAN RESOURCES



HR key number 10 people the rest is the surrounding communities of SMEs, such as women in the village Kadipiro Solo. Some people who occupy key posotions in making handicraft products, will ensure taht work carried out workers have a good standard of accuracy, conducted training for new artisans from outside of SMEs in a reguler period. The owner (Ms. Siti Aminah) likes to share techniques and processing the paper craft to new entrepreneurs interested in developing similiar products.